- Presentasi hasil karya kursus kreasi seni rupa imigran baru kantor distrik Xinyi
- Pameran Hasta Karya Kulit Kreasi Imigran Baru
- Menjumpai keharuan baru - Pameran lukisan kreasi putra-putri imigran baru
- Melukis kampung halamanku – Pameran kreasi seni imigran baru
- My Baby Mama-Pameran Seni Kreatif Anak Imigran Baru
- Pameran Khusus Karnaval Topeng
- Pameran Kolase Eksotis: Perjalanan Sederhana dan Santai
- Pameran Zentangle Internasional Pekerja Migran Taipei ke-7
- Pameran The Whimsical World of Snacks
Budaya topeng di dunia telah ada sejak lama. Orang-orang memakai topeng untuk menyembunyikan identitas mereka, menciptakan suasana yang misterius, serta memainkan berbagai identitas dan peran dalam beragam perayaan. Aktivitas terkait topeng tidak hanya menjadi bentuk hiburan, tetapi juga mencerminkan nilai sosial dan seni budaya.
Pameran khusus kali ini mengumpulkan budaya topeng dari 9 negara, yaitu Thailand, Filipina, Indonesia, Korea, Jepang, Italia, Hungaria, Jerman, dan Meksiko. Pengunjung diajak untuk merasakan suasana perayaan dengan mengenakan topeng yang indah, memakai kostum warna-warni, dan ikut serta dalam parade di jalanan. Selain itu, Anda juga melukis topeng sendiri sambil meresapi keindahannya!
🔺 Periode Pameran: 2 Agustus 2024 (Jumat) - 30 Agustus 2024 (Jumat)
🔺 Lokasi Pameran: Ruang Pameran 101 dan 201, Taipei City Shilin District Public Assembly Hall
🔺 Isi Pameran:
[Penjelasan Pameran Khusus]
Topeng memiliki makna khusus dalam sejarah budaya manusia. Dalam upacara keagamaan, topeng digunakan untuk memperkuat kekuatan iman dan berkomunikasi dengan dewa-dewa, menjembatani jarak antara manusia dan Tuhan. Dalam perayaan, orang-orang mengenakan topeng untuk menyembunyikan identitas mereka agar dapat bergembira sepuas mungkin; sedangkan dalam pertunjukan teater, aktor menggunakan topeng untuk mewakili berbagai karakter, membawa penonton dari dunia nyata ke dunia imajinasi. Topeng bukan hanya simbol budaya, tetapi juga mencerminkan keadaan batin manusia dan menjadi representasi semangat warisan budaya tak benda.
Di dunia, terdapat banyak festival dan karnaval yang melibatkan penggunaan "topeng." Misalnya, Festival Topeng Bacolod di Filipina, di mana orang-orang mengenakan topeng wajah tersenyum sebagai harapan agar tetap optimis. Semua orang bernyanyi, menari, menikmati hidangan lezat, dan larut dalam suasana karnaval yang penuh kebahagiaan.
Ada juga Festival Hantu Phi Ta Khon di Thailand, di mana para penduduk mengenakan topeng hantu dan pakaian berwarna-warni. Mereka berparade di jalanan dengan penampilan menyerupai hantu untuk memohon panen yang melimpah dan cuaca yang baik.
Setiap akhir Februari, di kota Mohács, Hungaria, diselenggarakan Busójárás (Festival Hantu Buso). Para peserta mengenakan topeng merah bertanduk dan berbulu, lalu berkeliling di gang-gang kecil untuk menakuti penduduk setempat dan wisatawan.
Di Fastnacht (Karnaval Black Forest) di Jerman, tema utamanya adalah "Kejahatan Berkuasa, Dunia Kacau Balau" sehingga para peserta mengenakan topeng kayu yang diukir menyerupai tokoh seram, seperti penyihir dan badut. Sementara itu, dalam Día de Muertos (Hari Raya Kematian) di Meksiko, orang-orang mengenakan topeng tengkorak. Pada tengah malam pukul 12, lonceng gereja berdentang untuk menandai momen ketika keluarga menyambut arwah kerabat mereka untuk kembali berkumpul bersama di rumah.
Festival Topeng Andong, yang berakar pada tradisi Tari Topeng Hahoe Byeolsin, menampilkan beragam pertunjukan tari topeng dari berbagai negara. Dalam pagelaran ini, pengunjung dapat menikmati keindahan tari topeng tradisional Korea dan menyaksikan tarian topeng dari berbagai belahan dunia.
Teater Noh Jepang adalah seni teater tradisional Jepang yang unik, di mana para aktor mengenakan topeng selama pertunjukan. Seni ini memiliki sejarah lebih dari 600 tahun.
Di Indonesia, budaya Tari Topeng yang menggabungkan elemen keagamaan dan mitologi menampilkan detail yang indah dan kerajinan yang rumit. Tarian ini dianggap sebagai salah satu warisan seni kuno Indonesia yang paling berharga.
Budaya topeng yang muncul di setiap era atau wilayah terbentuk seiring dengan perkembangan masyarakatnya. Hal ini melahirkan ciri khas budaya yang unik. Melalui topeng sebagai alat perantara, mereka dapat melestarikan budaya dan nilai-nilai yang mereka yakini.
Thailand: Festival Hantu Phi Ta Khon
Tradisi dan Kepercayaan Kuno Thailand
Festival Phi Ta Khon (dalam bahasa Thai: ผีตาโขน, dibaca "Phi Ta Khon"), yang juga dikenal sebagai Festival Hantu Thailand, adalah festival yang diadakan di Provinsi Loei, Thailand. Festival ini bertujuan untuk memperingati Pangeran Vessandorn, yang diyakini sebagai inkarnasi Buddha Gautama. Menurut legenda, pangeran ini membawa kebahagiaan dan panen yang melimpah bagi rakyatnya.
Namun, suatu hari, sang pangeran memutuskan untuk kembali ke surga dan berharap rakyatnya melupakan dirinya. Ketika rakyat mengetahui hal ini, mereka sangat sedih. Para dewa, yang tersentuh oleh kesedihan rakyat, akhirnya mengizinkan sang pangeran kembali ke Loei. Dalam penyambutannya, pria, wanita, anak-anak, bahkan makhluk gaib seperti hantu dan arwah ikut serta dalam perayaan.
Kemunculan makhluk gaib yang menyeramkan ini membuat penduduk ketakutan. Festival ini lalu diadakan secara rutin untuk menenangkan para arwah, sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada sang pangeran.
Festival Phi Ta Khon
Setiap tahun, Festival Phi Ta Khon diadakan selama tiga hari antara bulan Juni hingga Juli. Ini adalah perayaan yang meriah dan penuh kegembiraan untuk memohon cuaca yang baik, panen yang melimpah, dan tanpa sedikit pun unsur menyeramkan.
Pada hari pertama, yang disebut Wan Ruam, penduduk mengundang Dewa Pelindung Sungai Mun, Phra U-pakut untuk meminta perlindungan. Hari kedua diisi dengan parade di jalan-jalan utama kota, di mana orang-orang yang berdandan menyerupai hantu dan menari mengikuti musik, menciptakan suasana seperti karnaval yang ramai. Hari terakhir dirayakan dengan pembacaan doa di kuil, penyalaan lilin dan dupa, berkunjung ke altar leluhur dan kuil untuk berdoa, serta memberikan persembahan kepada leluhur dan dewa-dewa.
Ciri Khas Topeng Phi Ta Khon
Topeng ini dibuat dari pelepah daun kelapa dan alat penanak nasi dari bambu, lalu dihias dengan taring dan berbagai motif berwarna-warni. Pada hari perayaan, penduduk mengenakan pakaian cerah dan bergabung dalam pawai dengan berdandan seperti hantu. Mereka juga memukul peralatan logam seperti kaleng dan pelat besi yang berbunyi nyaring, serta menabuh gong dan drum untuk mengusir roh jahat. Sepanjang jalan, mereka menari mengikuti iringan musik, menciptakan suasana penuh semangat untuk memeriahkan festival ini.
Filipina: Festival Topeng Bacolod (Festival Masskara)
Hidup Sulit, Tapi Tetap Optimis
Festival ini dimulai pada tahun 1980-an di Bacolod, wilayah selatan Filipina. Pada masa itu, penduduk Bacolod yang mayoritas menggantungkan hidupnya pada budidaya tebu dan produksi gula, mengalami kemunduran karena ditemukannya fruktosa dan pengganti gula lainnya di Amerika Serikat, yang menyebabkan runtuhnya industri gula.
Di saat yang sama, kapal penumpang MV Don Juan, yang membawa ribuan penduduk Pulau Negros, termasuk lulusan baru dan wisatawan yang baru pulang dari Manila, tenggelam akibat bertabrakan dengan kapal barang. Hampir seluruh penumpangnya tewas, sehingga membuat seluruh kota tenggelam dalam kesedihan mendalam.
Untuk menyemangati semua orang agar tetap tersenyum dalam menghadapi kesulitan, maka diselenggarakanlah karnaval topeng di Bacolod dengan tema "topeng senyum". Sejak saat itu, setiap bulan Oktober, karnaval topeng selalu diadakan di Bacolod, sehingga Bacolod dikenal sebagai "Kota Senyuman".
Topeng Senyum Penuh Warna
Masskara Festival, atau Festival Topeng Bacolod, diselenggarakan pada pertengahan Oktober setiap tahun. Acara utamanya meliputi: pemilihan Ratu MassKara, kompetisi tari topeng jalanan, karnaval, stan jajanan, kegiatan olahraga, konser musik, pasar pertanian, dan pameran dagang. Semua peserta mengenakan topeng senyum berwarna-warni sebagai simbol keberanian untuk menghadapi setiap tantangan dengan senyuman. Selama festival, orang-orang di jalanan akan berpesta, di mana semuanya akan bernyanyi, menari, menikmati makanan, dan tenggelam dalam sukacita.
Indonesia: Tari Topeng
Esensi Seni Kuno
Topeng tradisional Indonesia yang diukir dari kayu merupakan perwujudan seni kuno yang sangat indah dengan detail dan keterampilan yang luar biasa. Secara visual, topeng ini menampilkan kekayaan budaya Indonesia yang unik. Masyarakat Indonesia percaya bahwa tarian yang diiringi topeng ini mengandung kekuatan spiritual yang kuat, karena topeng diyakini sebagai media untuk menghubungkan manusia dengan kekuatan gaib. Karena topeng memiliki karakteristik yang sangat kuat, topeng mampu mengubah persepsi orang terhadap karakter yang diperankan. Oleh karena itu, dalam tarian, topenglah yang "berbicara", bukan penarinya.
Tarian Kebaikan dan Kejahatan - Tari Barong
Dalam tarian tradisional, penari akan mengenakan topeng yang melambangkan tokoh-tokoh penting dalam budaya, seperti manusia, dewa, dan setan. Topeng yang paling terkenal adalah topeng Rangda dan Barong dari Bali. Rangda melambangkan kejahatan, sedangkan Barong melambangkan kebaikan. Interaksi antara keduanya menggambarkan harmoni antara kebaikan dan kejahatan dalam kehidupan.
Korea Selatan: Festival Topeng Internasional Andong
Tari Topeng Hahoe Byeolsin
Tari Topeng Byeolsin di Hahoe yang memiliki sejarah lebih dari 800 tahun adalah bentuk seni pertunjukan yang unik di mana para penari mengenakan topeng. Pertunjukan ini seringkali menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat, emosi manusia, serta kritik sosial. Dengan memanfaatkan sifat anonimitas topeng, pertunjukan ini menyindir ketidakadilan sosial dan korupsi moral.
Tari Topeng Hahoe Byeolsin berasal dari Desa Hahoe di Andong, Korea Selatan. Sejak tahun 1997, festival ini menjadi inti perayaan di Festival Topeng Internasional Andong. Selama festival, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan Tari Topeng Hahoe Byeolsin, serta pertunjukan topeng dari berbagai negara.
Jepang: Teater Kuno Noh
Seni Panggung Unik dari Jepang
Noh adalah seni panggung khas Jepang yang memadukan drama, musik, dan tari topeng. Seni ini telah memiliki sejarah lebih dari 600 tahun dan sangat terkenal di dunia, seperti halnya dengan Kabuki.
Dalam Noh, setiap topeng mewakili peran tertentu, seperti Ko-omote yang melambangkan berbagai karakter perempuan, Tengu yang digunakan untuk mewakili makhluk misterius dan elemen supernatural, serta Okina yang dianggap sangat sakral. Okina sering dipandang sebagai perwujudan dewa, yang diyakini membawa umur panjang dan kemakmuran bagi keluarga Jepang.
Italia: Festival Topeng Venesia (Carnevale di Venezia)
Salah Satu dari Tiga Karnaval Terbesar Dunia
Tiga karnaval terbesar di dunia adalah "Carnevale di Venezia" (Festival Topeng Venesia) di Italia, "Karnaval Rio de Janeiro" di Brasil, dan "Karnaval Nice" di Prancis. Di antaranya, Carnevale di Venezia dianggap paling unik.
Konon pada tahun 1162, masyarakat Venesia merayakan kemenangan atas Patriarkat Aquileia, musuh mereka yang telah lama dihadapi. Untuk memperingati momen ini, orang-orang mengenakan topeng dan mengadakan pesta di Lapangan Piazza San Marco dengan menari dan berkumpul dengan sukacita. Tradisi ini kemudian menjadi acara resmi pada era Renaisans.
Setelah abad ke-17, karnaval bergaya Barok mulai populer. Para bangsawan yang menghadiri perayaan mengenakan topeng untuk menyembunyikan identitas mereka. Dengan begitu, jiwa dan pikiran mereka bebas dari belenggu kelas sosial dan pekerjaan, sehingga mereka dapat bersenang-senang sepuasnya selama perayaan. Seiring waktu, masyarakat umum juga mulai menghias diri dengan topeng, hiasan kepala, dan pakaian mewah, sehingga semua orang dapat melupakan status sosial mereka untuk sementara dan sepenuhnya menikmati kehidupan serta kegembiraan selama festival.
Hungaria: Festival Busójárás (Festival Hantu Buso)
Topeng Merah yang Bertanduk dan Berbulu
Setiap akhir Februari, Kota Mohács di Hungaria menyelenggarakan festival topeng tahunan yang meriah! Banyak peserta mengenakan topeng merah berbulu dengan tanduk panjang, mantel dari kulit domba, serta ikat pinggang berlonceng. Mereka berkeliling di jalan-jalan untuk menakuti penduduk setempat dan wisatawan.
Sejarah Busójárás ini berawal dari abad ke-16. Konon, ketika Kerajaan Hungaria diserang oleh Kekaisaran Ottoman (Turki), penduduk Mohács melarikan diri dari kota dan bersembunyi di rawa-rawa sekitar. Suatu malam, seorang penduduk asli suku Šokac berkata kepada mereka, "Jangan takut, hidup kalian akan segera membaik, dan kalian akan kembali ke rumah kalian."
Mendengar hal itu, orang-orang Mohacs mengenakan topeng berlumuran darah, bertanduk panjang dan berbulu, serta mengenakan jubah bulu. Mereka menakuti orang-orang Turki yang percaya akan hal-hal mistis, hingga akhirnya berhasil mengusir pasukan Ottoman. Tradisi ini kemudian terus dilestarikan hingga sekarang dan menjadi perayaan tahunan warga Mohács untuk menyambut musim semi dan mengantar musim dingin.
Jerman: Karnaval Black Forest
Karnaval Black Forest di Jerman memiliki sejarah panjang, yaitu dimulai sejak tahun 1530. Perayaan ini bertujuan untuk merayakan pengusiran roh jahat. Penduduk setempat percaya bahwa selama perayaan, berbagai makhluk gaib dan iblis akan muncul. Oleh karena itu, dalam kegiatan karnaval, semua orang mengenakan topeng kayu ukir yang menyeramkan, seperti penyihir atau badut, yang memiliki nuansa misterius dan menakutkan. Mereka juga membunyikan alat musik keras-keras untuk mengusir roh jahat dan kekuatan gelap.
Selain berdandan dengan kostum yang unik, penduduk setempat juga akan berkeliling kota sambil bersenang-senang dan meneriakkan "Narri, Narro" (dalam bahasa Jerman artinya "bodoh, konyol"). Mereka akan menggoda para pengunjung sambil berparade. Meskipun penampilan mereka menyeramkan, suasana yang tercipta sangat menyenangkan.
Meksiko: Día de los Muertos (Hari Raya Kematian)
Día de los Muertos (Hari Raya Kematian) berakar dari tradisi penghormatan leluhur yang dilakukan oleh masyarakat adat beberapa abad lalu dan sebuah perayaan Aztek yang didedikasikan untuk Dewi Mictecacihuatl. Bagi mereka, meratapi orang yang telah meninggal dianggap sebagai tindakan tidak hormat dan tidak perlu, karena kematian hanyalah bagian dari siklus hidup yang harus dilalui, dan orang-orang terkasih yang telah pergi akan selalu hidup dalam ingatan serta semangat mereka yang masih hidup.
Memandu Arwah Pulang untuk Pesta dan Berkumpul Bersama
Di Meksiko, Día de los Muertos (Hari Raya Kematian) adalah perayaan penting yang berlangsung dari 31 Oktober hingga 2 November, bertepatan dengan Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November) dan Hari Arwah (2 November) dalam tradisi Katolik. Selama perayaan ini, jalan dari pemakaman hingga ke kota akan dihiasi dengan bunga marigold kuning, dan lentera dinyalakan di depan pintu rumah.
Pada malam 31 Oktober, penduduk Meksiko membawa bantal, makanan, dan minuman ke pemakaman untuk bermalam bersama kerabat atau teman yang telah meninggal. Makam dihiasi dengan lilin warna-warni, “pan de muerto” (roti khusus untuk Hari Raya Kematian), “papel picado” (hiasan kertas ukir), serta dekorasi tengkorak berwarna-warni. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 12 malam, petasan, cahaya lentara, dan aroma bunga marigold menjadi tanda kepulangan arwah leluhur.
Papel picado: Kertas berwarna-warni yang dipotong membentuk pola tengkorak, lalu dirangkai menjadi spanduk atau bendera hiasan.
Pan de muerto: Pada masa Aztek kuno, hati manusia digunakan sebagai persembahan. Namun, tradisi ini dikritik oleh penjajah Eropa, sehingga diubah menjadi roti sebagai pengganti.
Flores de muerto: Bunga marigold berwarna oranye atau kuning yang cerah, digunakan untuk memandu arwah pulang ke rumah melalui warna dan aromanya yang khas.
Calaveritas de azúcar: Tengkorak kecil yang terbuat dari gula icing, dihias dengan warna-warna cerah dan motif menarik. Tengkorak ini bisa dimakan atau digunakan sebagai dekorasi, biasanya diberi nama orang yang telah meninggal.


![Taiwan.gov.tw [Buka tab baru]](/images/egov.png)
