Penulis: Ibu Guru Lin Qiu-hui
Konflik dan tantangan pernikahan lintas negara
Dua orang yang berasal dari negara yang berbeda kini telah membentuk sebuah keluarga, kehidupan keluarga ‘imigran baru’ merupakan peleburan keberagaman budaya, serta merupakan tempat terjadinya benturan antar budaya dan terjadinya gesekan. Setiap keluarga memiliki masalahnya masing-masing, demikian pula halnya dengan keluarga imigran baru, hal terkecil yang mungkin muncul biasanya terkait perbedaan pandangan di antara suami dan istri, hal yang terbesar mungkin melibatkan perbedaan tradisi kedua negara dan kepercayaan yang dianut, semuanya itu dapat memicu api pertikaian dalam pernikahan dan keluarga.
Di bawah ini akan dibahas mengenai beberapa tantangan yang sering dihadapi oleh keluarga imigran baru:
1. Kehidupan keluarga yang baru
Setelah melangsungkan pernikahan maka akan memasuki babak baru kehidupan berkeluarga, hal tersebut merupakan sebuah tantangan baru yang dihadapi oleh setiap pengantin baru. Bagi ‘imigran baru’ pun juga demikian, tidak hanya memasuki kehidupan baru dalam berkeluarga, tetapi juga memasuki kebudayaan baru, baik itu kebiasaan hidup, bahasa, maupun pandangan tentang keluarga yang seluruhnya merupakan pangkal tekanan hidup yang sangat besar. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada latar belakang lingkungan keluarga dari kedua pihak suami dan istri, imigran baru terpaksa harus meluangkan lebih banyak energi sebelum menjadi bagian dari keluarga baru dan sebelum kebudayaan yang baru menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari.
2. Konsep pengasuhan anak yang berbeda
Sebagian keluarga imigran baru memiliki beban ekonomi yang terbilang berat, tidak memungkinkan anak-anak mereka mengikuti les / bimbingan belajar maupun kursus seni. Terlebih lagi, penelitian terdahulu menemukan bahwa prestasi putra-putri imigran baru di lingkungan sekolah lebih rendah, mereka sering dikucilkan oleh teman-teman di sekolah; meski pada penelitian terakhir tidak ditemukan perbedaan tersebut, namun putra-putri imigran baru masih saja memikul stigma negatif yang tidak sedikit. Pada kenyataannya, di dalam sebuah keluarga imigran baru, karena perbedaan latar belakang lingkungan pertumbuhan dari kedua orang tua yang cukup besar, pandangan orang tua mengenai pengasuhan anak pun memiliki perbedaan dan pertentangan yang tidak kecil, yang kemudian mengakibatkan timbulnya konflik antara suami istri atau putra-putri mereka.
3. Benturan budaya yang timbul
Ketika berlibur ke suatu negara yang baru, segala hal yang baru tampak menarik; namun bila menetap di suatu negara yang baru, maka kebudayaan yang baru, agama & kepercayaan, tradisi kuliner, perbedaan bahasa malah akan menjadi sumber tekanan saat akan mulai beradaptasi dengan kehidupan yang baru tersebut. Sama halnya dengan para pekerja migran, keterlibatan budaya dalam migrasi pernikahan akan makin tinggi, membutuhkan lebih banyak pengorbanan dalam membuat pilihan antara kebudayaan Taiwan dan kebudayaan negara asal. Bagaimana caranya mempertahankan subjektivitas pribadi tanpa menimbulkan benturan dengan kebudayaan setempat merupakan pembelajaran yang wajib dihadapi oleh para imigran baru.
Bila memiliki kesulitan atau kebutuhan, imigran baru dapat memperoleh bimbingan perawatan melalui pusat layanan keluarga imigran baru yang didirikan oleh pemerintah. Ketika menghadapi tekanan yang irasional dari keluarga suami, Anda dapat menelepon ke sambungan perlindungan diri ‘113’ atau ‘110’ untuk meminta pertolongan, demi melindungi diri sendiri. Kita harus paham untuk melindungi diri sendiri demi melindungi segala sesuatu yang kita pandang berharga.

![Taiwan.gov.tw [Buka tab baru]](/images/egov.png)
