Penulis: Ibu Guru Lin Qiu-hui Jalan menuju kebahagiaan pernikahan lintas negara
Keluarga imigran baru seringkali menghadapi tantangan dan konflik karena perbedaan kebudayaan. Namun, apakah benar-benar sulit mengatasi kendala yang timbul akibat kewarganegaraan tersebut? Sebenarnya, bila memiliki keinginan untuk lebih dapat memahami dan menghormati kebudayaan yang satu dengan yang lainnya, tentu saja akan menemukan keselarasan jalan menuju kebahagiaan kendati terdapat perbedaan:
1. Komunikasi antar budaya yang menyeluruh
Kedua orang tua dalam keluarga imigran baru memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda, meski terdapat kemungkinan adanya benturan dalam hal pendidikan dan pengasuhan anak, namun generasi kedua yang tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga dengan keberagaman budaya, akan belajar untuk menghormati, menerima perbedaan kebudayaan, memupuk penguasaan diri terhadap lintas budaya, hal tersebut akan meningkatkan kemampuan diri untuk beradaptasi ke dalam masyarakat yang beragam. Pola hidup berdampingan antara kebudayaan milik pribadi dan kebudayaan Taiwan harus ditemukan oleh imigran baru dan keluarga mereka, hal tersebut membutuhkan interaksi dan pemahaman dalam jangka waktu yang panjang.
2. Meningkatkan interaksi antara orang tua dan anak
Orang tua dan anak-anak yang berpartisipasi bersama-sama dalam sebuah kegiatan akan dapat mengurangi jarak di antara mereka, juga dapat saling memahami melalui kerja sama dan interaksi yang terjadi selama kegiatan berlangsung. Berbagai kegiatan seperti kegiatan swakarya, tata boga, kebudayaan, dapat meningkatkan interaksi antara orang tua dan anak, serta selama proses kegiatan berlangsung, lebih dapat membangun jaringan dukungan antar keluarga imigran baru, saling berkomunikasi mengenai masalah atau kendala yang dihadapi, serta memulihkan kembali keberanian untuk tetap berjuang.
3. Lima tahapan pendidikan
Agar sebuah keluarga dapat berfungsi dengan tepat, lima jenis pendidikan berikut dapat dicoba secara bertahap, menciptakan sikap saling menghormati, memperhatikan keluarga yang tengah belajar, demi mewujudkan rumah sebagai ruang beristirahat yang nyaman serta penuh dengan cinta.
1.Teguran: mengetahui namun tidak melakukan.
Pengarahan langsung, mudah memicu kedua pihak saling berlawanan.
2. Bimbingan: Mengetahui namun belum tentu dapat melakukan.
Meski memiliki cara, namun kemampuan merealisasikan, tingkat motivasi masih belum memadai.
3. Pelatihan: Mampu melakukan namun belum tentu mau melakukan.
Menjelaskan tahapan-tahapan seperti yang dilakukan oleh seorang pelatih, namun anak-anak belum tentu menyukainya.
4. Pengaruh: bersedia melakukan namun belum tentu rela.
Beranjak dari sudut pandang anak agar anak memahami pentingnya dan berharganya hal tersebut bagi dirinya pribadi dan bagi orang lain.
5. Terharu: suka melakukan, rela menerima.
Membuat anak-anak memahami nilai diri sendiri, bersedia menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Ketika keragaman budaya mengalami benturan, maka dibutuhkan lebih besar lagi rasa hormat dan adaptasi, bila mampu menangkap nilai-nilai dari setiap kebudayaan, maka peleburan keberagaman budaya juga dapat memberikan daya saing yang bersifat internasional kepada putra-putri generasi kedua imigran baru. Meski mengalami kegagalan saat imigran baru memasuki kehidupan berkeluarga, berharap melalui interaksi dan pemahaman atas perbedaan keberagaman budaya dari negara yang berbeda, mereka lambat laun mulai bisa terbiasa, yang semula seakan berada di lingkungan yang asing, kini berubah menjadi kampung halamannya sendiri.